PERGERAKAN
JOKOWI MENJADI GUBERNUR
DKI
JAKARTA
A.
Biodata Jokowi calon
gubernur DKI Jakarta
Nama lengkap:
Ir. Joko Widodo (biasa dipanggil Jokowi)
Tempat dan
tanggal lahir: Surakarta, 21 Juni 1961.
Agama:
Islam
Hobi:
Penikmat musik beraliran rock cerdas
Riwayat
pendidikannya: SDN 111 Tirtoyoso Solo, SMP N 1 Solo, dan SMA N 6 Solo.
Fakultas
Kehutanan UGM Yokakarta Lulus pada tahun 1985 S1
Pekerjaan:
Walikota Solo periode 2005-2010 dan periode 2010- 2015
Pengusaha:
Eksportir Mebel
B. Tentang
Jokowi
Jokowi adalah salah seorang pemimpin
visioner yang dimiliki Indonesia. Setidaknya, inilah hasil studi yang penulis
ikuti, yang dibiayai sepenuhnya oleh Universitas Indonesia. Pertama, studi
sosiologi pembangunan dari Laboratorium Sosiologi FISIP-UI, bertajuk “Penataan
Sektor Informal Menuju Pembangunan yang Inklusif” oleh Paulus Wirutomo, et all
(2011). Kedua, studi “causal map” kepemimpinan walikota tentang daya saing
daerah oleh Ita Prihantika dan Sudarsono Hardjosoekarto (2011). Bersama
beberapa studi yang lain, kedua studi ini telah menggambarkan karakter
kepemimpinan Jokowi (dan pasangannya wakil walikota FX Hadi Rudyatmo), yang
sangat visioner, berfikir serba sistem, dan pro-rakyat: tidak hanya dalam kata,
tetapi lebih nyata dalam perbuatan.
C. Pembangunan
Ekonomi Wing Cilik
Karakter kepemimpinan Jokowi antara
lain diwarnai oleh sistem nilai inklusif, pada tataran personal dan tataran
kebijakan. Dalam pembangunan ekonomi, komitmen untuk berpihak pada wong cilik
telah dicanangkan sebagai janji politik sejak pencalonannya pada periode
pertama. Slogan “PKL adalah utama, dan mall bukan prioritas” merupakan salah
satu cerminan sistem nilai inklusif, yang berakar pada nilai pribadi, dan
berwujud menjadi prinsip kebijakan pemerintah Kota.
Banyak pernik kebijakan penataan PKL kota Solo yang
menggambarkan prinsip pembangunan yang inklusif ini. Pentungan diganti dengan
buku perda. Gusur paksa diganti dengan dialog, dan rembug warga. Penataan dan
relokasi dibarengi dengan penyiapan sarana, prasarana dan dana yang memadai.
Bahkan bantuan administrasi, serta promosi usaha juga diberikan sebagai paket
kebijakan “memanusiakan” wong cilik.
Karakter pembangunan inklusif seperti ini tidak berarti
memusuhi kelas atas. Mall tetap ada, dan jaringan waralaba bermodal besar tetap
tumbuh. Tetapi keberpihakan dan perlindungan Jokowi terhadap wong cilik itu
sungguh di atas rata-rata yang dilakukan oleh sebagian besar daerah lain.
PKL yang digusur disediakan alternative tempat usaha. Selain dapat menciptakan keadaan yang membuat para pedagang mau berpindah dan menetap seterusnya di tempat yang baru, hal ini juga diamati oleh Paulus Wirutomo (2012) telah memicu perkembangan “kultural” dan “proses sosial” dalam bentuk perubahan sistem nilai di kalangan para PKL. Kepemimpinan dan kebijakan Jokowi telah membentuk budaya berorganisasi, partisipasi dalam penataan pasar mereka sendiri, pengembangan mekanisme kontrol sosial, penanaman mentalitas “saudagar”, partisipasi dalam pelatihan, serta akses modal di antara PKL.
PKL yang digusur disediakan alternative tempat usaha. Selain dapat menciptakan keadaan yang membuat para pedagang mau berpindah dan menetap seterusnya di tempat yang baru, hal ini juga diamati oleh Paulus Wirutomo (2012) telah memicu perkembangan “kultural” dan “proses sosial” dalam bentuk perubahan sistem nilai di kalangan para PKL. Kepemimpinan dan kebijakan Jokowi telah membentuk budaya berorganisasi, partisipasi dalam penataan pasar mereka sendiri, pengembangan mekanisme kontrol sosial, penanaman mentalitas “saudagar”, partisipasi dalam pelatihan, serta akses modal di antara PKL.
D. PembangunanBudaya
Pembangunan
ekonomi berbasis wong cilik tersebut, juga dibarengi dan sejalan dengan
perhatian yang luar biasa pemerintah Kota Solo terhadap pembangunan sosial
budaya. Slogan “Mewujudkan Solo Sebagai Kota Wisata Berbasis Budaya dan
Lingkungan Hidup” dapat dikatakan merupakan perwujudan visi personal Jokowi dan
FX Hadi Rudyatmo menjadi prinsip pemerintahan Kota. Paulus Wirutomo menyebut
pembangunan sosial Kota Solo yang bersifat luas jangkauannya (broad-base), yang
mencakup pembangunan identitas budaya kota, pengembangan partisipasi
masyarakat, pembudayaan anti kekerasan, serta penyediaan ruang publik (public
sphere) untuk merangsang munculnya aktivitas dan kesadaran kewargaan bagi
masyarakat, khususnya PKL.
Konservasi budaya dan tradisi masa lalu dikemas dalam
konteks kekinian dalam berbagai bentuk dan manifestasi. Salah satu yang sangat
menonjol adalah terbitnya jadwal kegiatan (calender of events) Kota Solo.
Jadwal ini dapat diakses secara sangat luas termasuk melalui website, yang
menggambarkan betapa masifnya kegiatan budaya, seni, sosial dan kepariwisataan.
Tidak kurang dari 50 kegiatan dijadwalkan dalam tahun 2012, yang berarti hampir
setiap minggu terdapat kegiatan kultural dan kepariwisataan.
Padahal sesungguhnya potensi wisata Kota Solo tidaklah
selengkap beberapa daerah lain. Pantai tidak punya. Gunung dan air terjun milik
Kabupaten Karanganyar. Pemandian dan wisata agro milik Kabupaten Boyolali,
Wonogiri dan Klaten. Wisata spiritual milik Kabupaten Sukoharjo, Wonogiri, dan
Sragen. Bandara ada di Kabupaten Boyolali. Wisata situs purba ada di Kabupaten
Sragen. Bandingkanlah, misalnya dengan Kabupaten Lombok Tengah, yang memiliki
semua potensi wisata: pantai yang sangat indah, gunung dan air terjun yang
mempesona, kuliner yang maknyus, dan kultural yang aduhai, bahkan ada bandara
internasional. Tetapi Lombok Tengah tidak memilik kalender kegiatan (calender
of events) yang terencana dan terakses luas.
E. Daya Saing
Daerah
Profil
kepemimpinan visioner Jokowi juga terungkap dalam tesis magister Ita Prihantika
(2011), bertajuk visi Walikota tentang daya saing daerah, di mana penulis
bertindak sebagai pembimbing akademik. Dengan menggunakan metode manual yang
dikembangkan oleh Ackerman, et all (1992), dan dilanjutkan dengan simulasi
system dyamics dengan metode NUMBER, teridentifikasi tiga variabel penting
dalam persepsi Jokowi tentang daya saing daerah, yaitu: kebijakan pro-rakyat,
lingkungan usaha produktif, serta kualitas infrastruktur dan lingkungan hidup.
Sementara itu, Jokowi juga sangat percaya hubungan kausal antara daya saing
daerah dengan kesejahteraan sosial dan pendidikan. Tidaklah mengherankan bila
perhatian terhadap pendidikan dan kesehatan bagi warga miskin di Kota Solo
sangatlah menonjol.
Bahkan, seorang mahasiswa program doktor sosiologi yang baru saja menyelesaikan riset lapangan menemukan fakta bahwa sebagian besar tunjangan jabatan Jokowi sebagai walikota habis untuk membeli buku tulis dan sabun mandi. Bagasi mobil dinas Jokowi selalu dipenuhi dengan bungkusan berisi buku tulis dan sabun mandi. Setiap ada kesempatan jumpa warganya yang wong cilik, Jokowi selalu memberi tanda mata bungkusan tersebut. Ini adalah salah satu cerminan visi Jokowi tentang kesehatan dan pendidikan warganya.
Bahkan, seorang mahasiswa program doktor sosiologi yang baru saja menyelesaikan riset lapangan menemukan fakta bahwa sebagian besar tunjangan jabatan Jokowi sebagai walikota habis untuk membeli buku tulis dan sabun mandi. Bagasi mobil dinas Jokowi selalu dipenuhi dengan bungkusan berisi buku tulis dan sabun mandi. Setiap ada kesempatan jumpa warganya yang wong cilik, Jokowi selalu memberi tanda mata bungkusan tersebut. Ini adalah salah satu cerminan visi Jokowi tentang kesehatan dan pendidikan warganya.
F. Pilkada
DKI
Sebagai
warga DKI, penulis menyambut gembira dengan munculnya pasangan-pasangan
balongub yang sangat berkualitas. Semua pasangan berbobot dan credible.
Kebetulan penulis mengenal semua pasangan yang berlaga, dari yang mengenal
cukup dekat sampai yang mengenal sangat dekat. Rekam jejak personalnya juga
sangat lengkap, baik ketika sebagai sejawat di birokrasi maupun sebagai
akademisi. Sayang sekali, hanya data tentang Jokowi yang penulis miliki sebagai
hasil kajian ilmiah tentang sosiologi pembangunan dan kepemimpinan.
Kriteria umum untuk memilih kepala daerah dan wakilnya adalah pasangan yang dapat melaksanakan mandat konstitusional Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yaitu pilihlah pasangan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatan pelayanan umum dan membangun daya saing daerah. Untuk Gubernur DKI dan Wakilnya tentu harus dilengkapi dengan kecakapan untuk melaksanakan perintah Undang Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kriteria umum untuk memilih kepala daerah dan wakilnya adalah pasangan yang dapat melaksanakan mandat konstitusional Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yaitu pilihlah pasangan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatan pelayanan umum dan membangun daya saing daerah. Untuk Gubernur DKI dan Wakilnya tentu harus dilengkapi dengan kecakapan untuk melaksanakan perintah Undang Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia.
G. PROGRAM KARTU SEHAT.
KBR68H -
Warga miskin Jakarta bakal segera punya Kartu Sehat.Pemerintah Jakarta
mengklaim kartu ini lebih praktis dan mudah digunakan. Pasalnya, warga tak
perlu lagi berurusan dengan birokrasi.
Bulan depan, duet pemimpin Jakarta Joko Widodo dan Basuki
Tjahaja Purnama akan merealisasikan salah satu program andalan mereka yakni
Kartu Sehat.
Wakil
Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja mengatakan pembagian kartu itu diutamakan untuk
warga yang terdaftar di Puskesmas. Pasalnya, masih banyak warga tidak sanggup
yang berobat ke puskesmas.
"Pak Gubernur sih kepengennya bulan November sudah
jalan. Tapi bukan semuanya diberikan kartu sehat. Kan gak mungkin juga mencetak
kartu itu dilakukan dengan cepat. Kami prioritaskan dulu warga yang sudah masuk
ke puskesmas.
Wakil Gubernur Jakarta Basuki berjanji membagikan kartu ini
secara gratis. Warga miskin tidak perlu mengurus Jaminan Kesehatan
Masyarakatnya melalui RT jika ingin berobat. Konsep seperti ini mirip dengan
kebijakan yang diterapkan Joko Widodo ketika menjabat Walikota Solo.
(Berarti nanti tidak ada syaratnya ya pak, bagi semua
Warga Jakarta bisa pakai-red?) Kalau di Solo disyaratkan karena uangnya
sedikit. Tapi kalau di Jakarta, konsepnya sudah mengarah ke Undang-undang.
Prinsipnya, setiap warga negara jangan menjadi miskin karena sakit. Ini akan
luar biasa dan mampu meningkatkan daya saing ekonomi."
Warga Solo
mengakui kemudahan program kesehatan versi Jokowi ini. Salah satu warga Solo,
Johanes Sandi, mengatakan daerah di Jawa Tengah itu punya Kartu Pemeliharaan
Kesehatan Masyarakat Surakarta atau PKMS. PKMS mirip dengan Kartu Sehat yang
akan diterapkan di Jakarta.
Mendapatkannya
sangat mudah mba, kita cuma minta tandatangan ke RT, RW, lurah langsung pemkot.
Pemkot itu cuma minta 3000, kita tunggu, kalau nggak rame, kita tunggu 15 menit
langsung jadi. Dan bisa digunakan saat itu juga.
Namun, Puskesmas di Jakarta ternyata belum menerima
sosialisasi lengkap terkait Kartu Sehat. Padahal, peluncuran Kartu Sehat kurang
dari sebulan lagi. Misalnya, Kepala Puskesmas Kecamatan Tambora Jakarta Barat
Silvi.
Dari
Gubernur baru, belum ada, iya kita masih menunggu. Sebenarnya tidak beda jauh,
namun seperti apa tekhnisnya, kita belum dapat arahan. Ini memang pro rakyat,
untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis, Nah teknisnya seperti apa, belum
diluncurkan oleh Gubernur Jokowi.Karena nanti, jika itu sesuai dengan Ibu Din,
Ibu Kepala Dinas, jika itu sudah sesuai arahan Gubernur, baru kita di panggil
Kondisi yang
sama juga dialami Puskesmas Taman Sari Jakarta Barat. Indah salah satu tenaga
medis di sana mengaku tidak paham perbedaan Kartu Sehat dan Jaminan Kesehatan
Daerah yang selama ini berjalan.
Kalau sosialisasi langsung dari Kepala Dinas belum ada,
ya saya belum terlalu paham, tetapi kalau yang kemarin dibagikan itu namanya
kartu jamkesda. Nah, kalau perbedaannya yang sekarang, belum tahu sama sekali.
Ibu Kepala Dinas yang biasanya yang menyampaikan ke kita. Berjenjang ke
puskesmas. Kalau mereka baru denger, terus kitanya belum diajak sosialisasi,
berarti belum ada. Pengumumam itu biasanya dari surat edaran.
Kritik soal
persiapan juga disampaikan Konsorsium Masyarakat Miskin Kota. Juru Bicara
Konsorsium Masyarakat Miskin Kota Edi Saidi berharap Gubernur Jokowi mengawasi
ketat pemberian Kartu Sehat agar tidak salah sasaran. Pasalnya, banyak warga
miskin yang sering terlupakan ketika pemerintah mendata mereka.
Kartu sehat ini yang akan dilakukan oleh Pak Jokowi ini,
akan memudahkan warga Jakarta, untuk bisa langsung mendapatkan kartu kesehatan
secara gratis, walaupun nanti dalam jenisnya ada tiga, ada yang silver, gold
dan platinum.Yang belum terlalu jelas sistemnya. Jadi jangan sampai niat baik
ini dalam proses pelaksanaannya itu tidak berjalan baik. Sangat mungkin
terjadi, karena itu harus dibangun sistem kontrol yang melibatkan warga, dan
diberi ruang seluas-luasnya, untuk ada proses pengaduan yang langsung
ditangani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar