Kamis, 28 Februari 2013

Kewajiban Menuntut Ilmu








Kewajiban Menuntut Ilmu

Pendahuluan
            Dewasa ini mulai bermunculan aneka macam sekolahan yang warna-warni. Banyak rupanya, banyak jenisnya. Karena kebetulan, kami belum mengetahui dan mendalami dalam bidang ini, maka dalam makalah ini tidak kami sebutkan jenisnya. Tetapi, kami bisa mengajak anda sekalian untuk mengamati dan melihat sendiri kedalam dunia pendidikan kita yang mulai maju, secara kasat mata. Ada sekolah negeri, ada juga antonimnya yaitu sekolah swasta. Sekolah swasta saat ini sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat, baik dalam bidang sarana maupun prasarana. Kemudian, ada sekolah yang mengusung nama Islam, entah sekolah Islam ‘saja’ ataupun menggunakan istilah sekolah Islam terpadu. Dan tentunya yang tak kalah majunya yaitu sekolah boarding school, sekolah yang pulang pada sore hari, dengan makan siang di sekolah. Sistem ini yang kita ketahui bersama mencontoh dari sisyem pondok pesantren.
            Sekolah yang beraneka macam ini tentunya menjadikan sebuah pilihan yang gampang-gampang susah bagi orang tua untuk menyekolahkan buah hatinya di sekolah terbaik. Sebagian orang tua memang sadar betul kepentingan sebuah sekolah bagi masa depan anaknya, akan tetapi sebagian lainnya kurang menyadari pengaruh sekolah bagi pertumbuhan dan tentunya masa depan sang anak.
            Orang tua yang sadar pun tidak semuanya berpikiran sama. Tidak semua orang tua berpikir bahwa sekolah tempat mencari ilmu, bukan tempat mencari ijazah. Maka, pemikirn pragmatis inilah yang harus kita luruskan. Dan untuk yang sudah berpikir dan menyadari betul akan fungsi sekolah sebagai tempat menuntut ilmu, maka orang tua yang seperti inilah yang harus kita contoh. Para orang tua tersebut menyadari akan pentingnya ilmu pengetahuan, karena mereka paham, bahwa ilmu itulah yang akan mencerahkan masa depan anaknya, bukan harta, apalagi pangkat orang tuanya. Tentunya, orang tua yang muslim harus tahu dan sadar bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban, hukumnya fardhu ‘ain.

Menuntut Ilmu Adalah Kewajiban Seorang Muslim
Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya :
يَرْفَعُ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا العِلْمَ دَرَجَات (المجادلة : ۱۱)


Artinya :
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah : 11)
            Sabda Rasulullah SAW :
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ ْالآخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ  وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ (رواه الطبراني(
“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu.” (HR. Thabrani)
Berdasarkan dari hadits ini kita bisa melihat, keutamaan sebuah ilmu. Ilmu itu bisa menuntun kita kedalam berbagai hal. Ilmu bisa menjadikan kita terhormat ataupun terhina. Bahkan, ilmu itu ada yang halal dan haram sifatnya. Seperti yang tertera dalam hadits tersebut, kita bisa mendapatkan akhirat dengan ilmu, contohnya saja seperti kita mempelajari ilmu Al Qur’an dan Al Hadits. Sedangkan bisa menjadi kebalikannya, kita tidak mendapat manfaat apa-apa dari ilmu yang kita dapat, bahkan malah mendapat mudhorot dan kerugian bagi pencarinya. Seperti ilmu sihir, pelet, guna-guna, dsb. Bukan akhirat yang akan didapat dari mempelajari ilmu ini, tetapi malah menjerumuskan penggunanya kedalam neraka sedalam-dalamnya, walaupun sesaat terlihat si pengguna menjadi orang yang hebat.
Hukum mencari ilmu itu wajib, dengan rincian, pertama hukumnya menjadi fardhu ‘ain untuk mempelajari ilmu agama seperti aqidah, fiqih, akhlak serta Al-Qur’an. Ilmu-ilmu ini bersifat praktis, artinya setiap muslim wajib memahami dan mempraktekkan dalam pengabdiannya kepada Allah ‘azza wa jalla. Fardu ‘ain artinya setiap orang muslim wajib mempelajarinya, tidak boleh tidak. Dan kedua hukumnya menjadi fardu kifayah untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum seperti : ilmu sosial, kedokteran, ekonomi serta teknologi. Fardu Kifayah artinya tidak semua orang dituntut untuk memahami serta mempraktekkan ilmu-ilmu tersebut, boleh hanya sebagian orang saja.
Hadits yang kami sampaikan tadi menyebutkan, barang siapa yag menginginkan dunia, maka ia harus memiliki ilmu. Hadits ini sudah terbukti nyata, bahkan sejak dahulu kala. Orang-orang non muslim yang menjadi penemu, seperti Isaac Newton, Alexander Graham Bell, Thomas Alva Edison, Galileo Galilei, James Watt, dan tokoh-tokoh penemu lainnya, menunjukkan bahwa dengan ilmu mereka, mereka yang hanya orang biasa menjadi luar biasa, bahkan namanya masih dikenang hingga kini, walaupun jasadnya sudah tidak ada. Begitu pula dengan ilmuwan muslim, Ibnu Sina, Al Farabi, Ibnu Khaldun, Ar Razi, dan lain-lainnya sudah mengharumkan namanya hingga saat ini. Namanya pun masih digaungkan beberapa orang, karena kehebatannya dan tentunya karena ilmunya. Mereka itulah yang sudah membuktikan barang siapa yang menginginkan dunia maka harus memiliki ilmu. Dengan ilmu seseorang akan menjadi mulia dan terhormat. Dengan ilmu seseorang akan memiliki wibawa. Dengan ilmu seseorang akan memiliki dunia.
Saat ini, orang-orang mulai melupakan keutamaan mencari ilmu. Khususnya di negara kita, Indonesia. Sekolah umum melupakan tujuan pencarian ilmu, sehingga orientasinya bukan mencari ilmu, tetapi mencari nilai dan ijazah. Memang ada sebagian sekolah umum, baik itu negeri ataupun swasta yang tidak mengedepankan nilai semata, tetapi hal tersebut kalah dengan mayoritas sekolah yang salah tujuan tersebut.
Memang saat ini rencana pemerintah sudah baik, rencana untuk wajib belajar 9 tahun. Bantuan dan sumbangan juga mengucur ke sekolah, merupakan upaya pemerintah memajukan pendidikan. Tetapi hal tersebut belum maksimal. Banyak faktor yang menghubungkan dan mempengaruhi kelancaran pendidikan anak. Baik dari faktor internal maupun eksternal.
Faktor-faktor internal itu seperti sifat dan perilaku sang pencari ilmu, atau dalam hal ini kita tujukan kepada anak didik. Faktor dari dalam diri menjadi hal yang sangat berpengaruh, karena kemauan dan kesungguhan dari anak didik menjadikan kunci utama untuk suksesnya pendidikan dan pembelajaran. Apabila guru sudah bersungguh-sungguh, tetapi yang diajari malas dan enggan untuk belajar, maka hal tersebut menjadi hal yang sia-sia. Perlu adanya dorongan dan motivasi selalu, untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan menanamkan kesungguhan dan kesadaran akan pentingnya belajar, bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain.
Faktor lainnya merupakan faktor eksternal. Faktor ini contohnya seperti orang tua, guru, sekolahnya, atau lingkungannya. Faktor-faktor inilah yang sekarang ini sedang mengalami krisis yang cukup rumit. Orang tua zaman sekarang kurang memperhatikan pendidikan anaknya. Memang tidak semua orang tua, tetapi hal tersebut cukup disayangkan. Orang tua menyekolahkan anaknya hanya sekedar formalitas, agar tidak malu dengan tetangga. Orang tua menyekolahkan anaknya di SMA, tetapi tidak meninjau perkembangan dan keilmuan anaknya. Ternyata anaknya sering bolos dan ikut tawuran. Orang tua menyekolahkan anaknya di SMP favorit, hanya untuk gengsi-gengsian. Orang tua ini merupakan faktor utama setelah pribadi anak itu sendiri, faktor yang sangat berpengaruh pada pola pikir anak. Apabila sang orang tua asal-asalan menyekolahkan, maka anaknya pun akan asal-asalan. Tetapi, bila anaknya disekolahkan dengan baik, ditambah dengan doa agar menjadi anak sholeh dan sholehah, selalu dipantau perkembangannya, berkonsultasi dengan gurunya, maka anak pun akan terkontaminasi dangan hal baik tersebut. Bila ia bisa berpikir dewasa, dia akan berpikir kebaikan usaha dan jerih payah orang tuanya tersebut.
Faktor lingkungan terutama teman-temannya menjadikan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan, karena tidak sedikit hal-hal yang menyimpang bermula dari kesalahan berteman. Hal-hal seperti narkoba, free sex, tawuran, dan perihal menyimpang lainnya, salah satu faktor penyebabnya adalah teman yang salah. Bagi orang biasa seperti kita, yang imannya belum sekuat para wali atau Nabi, susah bagi kita untuk menghindari perbuatan buruk dari lingkungan yang buruk. Kita berteman dengan pencuri, tidak mustahil suatu saat kita ikut mencuri, walaupun barangnya kecil. Kita berteman dengan anak yang suka mengumpat dan berkata kotor, mungkin suatu saat kita akan menirukannya. Kita berteman dengan orang yang ahli puasa, suatu saat kita pun akan ketularan berpuasa. Kita berkawan dengan orang yang suka shalat dhuha, kita pun akan tergerak untuk melaksanakan shalat dhuha.
Seperti yang pernah kita dengar, bahwa tombo ati (obat hati) itu ada 5 perkara. Yang pertama membaca Al Qur’an beserta maknanya. Yang kedua bangun pada sepertiga terakhir malam, kemudian mendirikan shalat malam. Yang ketiga agar bergaul dan bermasyarakat dengan orang-orang sholeh. Yang keempat adalah mempebanyak berpuasa. Dan yang kelima adalah dzikir malam perpanjanglah. Di obat yang ketiga inilah, bisa kita cermati dan kita nilai bahwa teman bisa menjadi obat hati, dan bahkan bisa menjadi racun hati.
Ilmu Allah itu tidak terbatas. Seperti firmannya, dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Luqman : 27). Inilah perumpamaan ilmu Allah, sangat luas. Kalau boleh kami berikan permisalan, ilmu manusia itu hanya satu tetes air laut, tetapi ilmu Allah itu meliputi 7 samudera dan seluruh lautan. Betapa kerdilnya manusia itu. Maka, manusia yang bisa sombong itu adalah manusia yang tidak tahu diri, dan tidak menyadari akan keagungan ilmu-Nya.
Bahkan Nabiyullah Musa as. karena beliau merasa bahwa ilmunya sudah tinggi, beliau ditegur oleh Allah SWT. Teguran itu dengan dipertemukannya beliau dengan Nabi Khidir as. dalam perjalanannya. Beliau mengikuti perjalanan Nabi Khidir, walaupun sebelumnya sudah diperingatkan oleh Nabi Khidir bahwa Nabi Musa tidak akan kuat mengikuti beliau dalam perjalanannya. “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku” (QS. Al Kahfi : 67). Tetapi Nabi Musa tetap mengikuti Nabi Khidir, hingga beliau tercengang dengan segala perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Khidir as. Mulai dari merusak kapal, membunuh orang, dan membetulkan rumah yang hampir roboh. Nabi Musa mendapatkan banyak pelajaran berharga dari Nabi Khidir, dan atas kuasa-Nya Nabi Musa masih kalah ma’rifat ilmunya dengan Nabi Khidir as. Inilah wujud, betapa Allah itu luas ilmu-Nya, bahkan meliputi langit dan bumi. Wallahu a’lam bisshowab.
Penutup
            Mahasiswa adalah pencari ilmu yang berlevel paling tinggi dalam lingkup sekolah formal. Selain itu, mahasiswa juga masa pematangan dari masa labil menjadi stabil, dari sifat yang masih kekanakan menjadi dewasa. Pendewasaan itu juga berpengaruh dari ilmu yang didapatkan. Sudah sepantasnya semangat mencari ilmu kita lebih kuat dari anak-anak yang masih di SMA atau aliyah sederajat, apalagi yang masih ingusan seperti anak SMP atau tsanawiyah sederajat. Mahasiswa sudah harus membuat miliu belajar sendiri, mulai menulis karya-karya ilmiah. Menuntut ilmu ala mahasiswa memang tidak terlepas dari membaca, menulis, dan kemudian ditambah diskusi. Inilah cara belajar asli ala Islami, yang sepatutnya kita lestarikan. Ilmuwan Islam zaman dahulu pun melakukan hal yang sama. Mereka bahkan menggiatkan menulis, sehingga beberapa karya mereka masih kita rasakan hingga saat ini.
            Maka, kebiasaan baik membaca, menulis dan berdiskusi sewajarnya kita lestarikan. Tanpa bermaksud apa-apa dan menggurui bahwa hal tersebut memang kebutuhan kita bersama, bagaikan sesuap nasi yang kita butuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar