Kewajiban
Menuntut Ilmu
Pendahuluan
Dewasa ini mulai
bermunculan aneka macam sekolahan yang warna-warni. Banyak rupanya, banyak
jenisnya. Karena kebetulan, kami belum mengetahui dan mendalami dalam bidang
ini, maka dalam makalah ini tidak kami sebutkan jenisnya. Tetapi, kami bisa
mengajak anda sekalian untuk mengamati dan melihat sendiri kedalam dunia
pendidikan kita yang mulai maju, secara kasat mata. Ada sekolah negeri, ada
juga antonimnya yaitu sekolah swasta. Sekolah swasta saat ini sudah mengalami kemajuan
yang cukup pesat, baik dalam bidang sarana maupun prasarana. Kemudian, ada
sekolah yang mengusung nama Islam, entah sekolah Islam ‘saja’ ataupun
menggunakan istilah sekolah Islam terpadu. Dan tentunya yang tak kalah majunya
yaitu sekolah boarding school, sekolah yang pulang pada sore hari, dengan makan
siang di sekolah. Sistem ini yang kita ketahui bersama mencontoh dari sisyem
pondok pesantren.
Sekolah yang beraneka
macam ini tentunya menjadikan sebuah pilihan yang gampang-gampang susah bagi
orang tua untuk menyekolahkan buah hatinya di sekolah terbaik. Sebagian orang
tua memang sadar betul kepentingan sebuah sekolah bagi masa depan anaknya, akan
tetapi sebagian lainnya kurang menyadari pengaruh sekolah bagi pertumbuhan dan
tentunya masa depan sang anak.
Orang tua yang sadar pun
tidak semuanya berpikiran sama. Tidak semua orang tua berpikir bahwa sekolah
tempat mencari ilmu, bukan tempat mencari ijazah. Maka, pemikirn pragmatis
inilah yang harus kita luruskan. Dan untuk yang sudah berpikir dan menyadari
betul akan fungsi sekolah sebagai tempat menuntut ilmu, maka orang tua yang
seperti inilah yang harus kita contoh. Para orang tua tersebut menyadari akan
pentingnya ilmu pengetahuan, karena mereka paham, bahwa ilmu itulah yang akan
mencerahkan masa depan anaknya, bukan harta, apalagi pangkat orang tuanya.
Tentunya, orang tua yang muslim harus tahu dan sadar bahwa menuntut ilmu adalah
kewajiban, hukumnya fardhu ‘ain.
Menuntut Ilmu Adalah Kewajiban Seorang Muslim
Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya :
يَرْفَعُ اللهُ
الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا العِلْمَ دَرَجَات (المجادلة
: ۱۱)
Artinya :
“Allah akan meninggikan orang-orang
yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah
: 11)
Sabda Rasulullah SAW :
مَنْ أَرَادَ
الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ ْالآخِرَةِ فَعَلَيْهِ
بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ (رواه الطبراني(
“Barangsiapa yang menginginkan
kehidupan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang
menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa
yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu.” (HR. Thabrani)
Berdasarkan
dari hadits ini kita bisa melihat, keutamaan sebuah ilmu. Ilmu itu bisa
menuntun kita kedalam berbagai hal. Ilmu bisa menjadikan kita terhormat ataupun
terhina. Bahkan, ilmu itu ada yang halal dan haram sifatnya. Seperti yang
tertera dalam hadits tersebut, kita bisa mendapatkan akhirat dengan ilmu, contohnya
saja seperti kita mempelajari ilmu Al Qur’an dan Al Hadits. Sedangkan bisa
menjadi kebalikannya, kita tidak mendapat manfaat apa-apa dari ilmu yang kita
dapat, bahkan malah mendapat mudhorot dan kerugian bagi pencarinya. Seperti
ilmu sihir, pelet, guna-guna, dsb. Bukan akhirat yang akan didapat dari
mempelajari ilmu ini, tetapi malah menjerumuskan penggunanya kedalam neraka
sedalam-dalamnya, walaupun sesaat terlihat si pengguna menjadi orang yang
hebat.
Hukum mencari ilmu itu wajib,
dengan rincian, pertama hukumnya menjadi fardhu ‘ain untuk
mempelajari ilmu agama seperti aqidah, fiqih, akhlak
serta Al-Qur’an. Ilmu-ilmu ini bersifat praktis, artinya
setiap muslim wajib memahami dan mempraktekkan dalam pengabdiannya kepada Allah ‘azza wa jalla. Fardu ‘ain artinya setiap orang muslim
wajib mempelajarinya, tidak boleh tidak.
Dan kedua hukumnya menjadi fardu kifayah untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum seperti : ilmu sosial, kedokteran, ekonomi serta teknologi. Fardu Kifayah artinya tidak
semua orang dituntut untuk memahami serta mempraktekkan ilmu-ilmu tersebut, boleh
hanya sebagian orang saja.
Hadits yang kami sampaikan tadi
menyebutkan, barang siapa yag menginginkan dunia, maka ia harus memiliki ilmu.
Hadits ini sudah terbukti nyata, bahkan sejak dahulu kala. Orang-orang non
muslim yang menjadi penemu, seperti Isaac Newton, Alexander Graham Bell, Thomas
Alva Edison, Galileo Galilei, James Watt, dan tokoh-tokoh penemu lainnya,
menunjukkan bahwa dengan ilmu mereka, mereka yang hanya orang biasa menjadi
luar biasa, bahkan namanya masih dikenang hingga kini, walaupun jasadnya sudah
tidak ada. Begitu pula dengan ilmuwan muslim, Ibnu Sina, Al Farabi, Ibnu
Khaldun, Ar Razi, dan lain-lainnya sudah mengharumkan namanya hingga saat ini.
Namanya pun masih digaungkan beberapa orang, karena kehebatannya dan tentunya
karena ilmunya. Mereka itulah yang sudah membuktikan barang siapa yang
menginginkan dunia maka harus memiliki ilmu. Dengan ilmu seseorang akan menjadi
mulia dan terhormat. Dengan ilmu seseorang akan memiliki wibawa. Dengan ilmu
seseorang akan memiliki dunia.
Saat ini, orang-orang mulai
melupakan keutamaan mencari ilmu. Khususnya di negara kita, Indonesia. Sekolah
umum melupakan tujuan pencarian ilmu, sehingga orientasinya bukan mencari ilmu,
tetapi mencari nilai dan ijazah. Memang ada sebagian sekolah umum, baik itu negeri
ataupun swasta yang tidak mengedepankan nilai semata, tetapi hal tersebut kalah
dengan mayoritas sekolah yang salah tujuan tersebut.
Memang saat ini rencana
pemerintah sudah baik, rencana untuk wajib belajar 9 tahun. Bantuan dan
sumbangan juga mengucur ke sekolah, merupakan upaya pemerintah memajukan
pendidikan. Tetapi hal tersebut belum maksimal. Banyak faktor yang
menghubungkan dan mempengaruhi kelancaran pendidikan anak. Baik dari faktor
internal maupun eksternal.
Faktor-faktor internal itu
seperti sifat dan perilaku sang pencari ilmu, atau dalam hal ini kita tujukan
kepada anak didik. Faktor dari dalam diri menjadi hal yang sangat berpengaruh,
karena kemauan dan kesungguhan dari anak didik menjadikan kunci utama untuk
suksesnya pendidikan dan pembelajaran. Apabila guru sudah bersungguh-sungguh,
tetapi yang diajari malas dan enggan untuk belajar, maka hal tersebut menjadi
hal yang sia-sia. Perlu adanya dorongan dan motivasi selalu, untuk menumbuhkan
kepercayaan diri dan menanamkan kesungguhan dan kesadaran akan pentingnya
belajar, bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain.
Faktor lainnya merupakan faktor
eksternal. Faktor ini contohnya seperti orang tua, guru, sekolahnya, atau
lingkungannya. Faktor-faktor inilah yang sekarang ini sedang mengalami krisis
yang cukup rumit. Orang tua zaman sekarang kurang memperhatikan pendidikan
anaknya. Memang tidak semua orang tua, tetapi hal tersebut cukup disayangkan.
Orang tua menyekolahkan anaknya hanya sekedar formalitas, agar tidak malu
dengan tetangga. Orang tua menyekolahkan anaknya di SMA, tetapi tidak meninjau
perkembangan dan keilmuan anaknya. Ternyata anaknya sering bolos dan ikut
tawuran. Orang tua menyekolahkan anaknya di SMP favorit, hanya untuk
gengsi-gengsian. Orang tua ini merupakan faktor utama setelah pribadi anak itu
sendiri, faktor yang sangat berpengaruh pada pola pikir anak. Apabila sang
orang tua asal-asalan menyekolahkan, maka anaknya pun akan asal-asalan. Tetapi,
bila anaknya disekolahkan dengan baik, ditambah dengan doa agar menjadi anak
sholeh dan sholehah, selalu dipantau perkembangannya, berkonsultasi dengan
gurunya, maka anak pun akan terkontaminasi dangan hal baik tersebut. Bila ia
bisa berpikir dewasa, dia akan berpikir kebaikan usaha dan jerih payah orang
tuanya tersebut.
Faktor lingkungan terutama
teman-temannya menjadikan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan,
karena tidak sedikit hal-hal yang menyimpang bermula dari kesalahan berteman.
Hal-hal seperti narkoba, free sex, tawuran, dan perihal menyimpang
lainnya, salah satu faktor penyebabnya adalah teman yang salah. Bagi orang
biasa seperti kita, yang imannya belum sekuat para wali atau Nabi, susah bagi
kita untuk menghindari perbuatan buruk dari lingkungan yang buruk. Kita
berteman dengan pencuri, tidak mustahil suatu saat kita ikut mencuri, walaupun
barangnya kecil. Kita berteman dengan anak yang suka mengumpat dan berkata
kotor, mungkin suatu saat kita akan menirukannya. Kita berteman dengan orang
yang ahli puasa, suatu saat kita pun akan ketularan berpuasa. Kita berkawan dengan
orang yang suka shalat dhuha, kita pun akan tergerak untuk melaksanakan shalat
dhuha.
Seperti yang pernah kita dengar,
bahwa tombo ati (obat hati) itu ada 5 perkara. Yang pertama membaca Al Qur’an
beserta maknanya. Yang kedua bangun pada sepertiga terakhir malam, kemudian
mendirikan shalat malam. Yang ketiga agar bergaul dan bermasyarakat dengan
orang-orang sholeh. Yang keempat adalah mempebanyak berpuasa. Dan yang kelima
adalah dzikir malam perpanjanglah. Di obat yang ketiga inilah, bisa kita cermati
dan kita nilai bahwa teman bisa menjadi obat hati, dan bahkan bisa menjadi
racun hati.
Ilmu Allah itu tidak terbatas.
Seperti firmannya, dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut
(menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya,
niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Luqman : 27). Inilah perumpamaan ilmu Allah, sangat
luas. Kalau boleh kami berikan permisalan, ilmu manusia itu hanya satu tetes
air laut, tetapi ilmu Allah itu meliputi 7 samudera dan seluruh lautan. Betapa
kerdilnya manusia itu. Maka, manusia yang bisa sombong itu adalah manusia yang
tidak tahu diri, dan tidak menyadari akan keagungan ilmu-Nya.
Bahkan
Nabiyullah Musa as. karena beliau merasa bahwa ilmunya sudah tinggi, beliau
ditegur oleh Allah SWT. Teguran itu dengan dipertemukannya beliau dengan Nabi
Khidir as. dalam perjalanannya. Beliau mengikuti perjalanan Nabi Khidir,
walaupun sebelumnya sudah diperingatkan oleh Nabi Khidir bahwa Nabi Musa tidak
akan kuat mengikuti beliau dalam perjalanannya. “Sesungguhnya kamu
sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku” (QS. Al Kahfi : 67).
Tetapi Nabi Musa tetap mengikuti Nabi Khidir, hingga beliau tercengang dengan
segala perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Khidir as. Mulai dari merusak kapal,
membunuh orang, dan membetulkan rumah yang hampir roboh. Nabi Musa mendapatkan
banyak pelajaran berharga dari Nabi Khidir, dan atas kuasa-Nya Nabi Musa masih
kalah ma’rifat ilmunya dengan Nabi Khidir as. Inilah wujud, betapa Allah itu
luas ilmu-Nya, bahkan meliputi langit dan bumi. Wallahu a’lam bisshowab.
Penutup
Mahasiswa adalah pencari ilmu yang berlevel paling tinggi dalam lingkup
sekolah formal. Selain itu, mahasiswa juga masa pematangan dari masa labil
menjadi stabil, dari sifat yang masih kekanakan menjadi dewasa. Pendewasaan itu
juga berpengaruh dari ilmu yang didapatkan. Sudah sepantasnya semangat mencari
ilmu kita lebih kuat dari anak-anak yang masih di SMA atau aliyah sederajat,
apalagi yang masih ingusan seperti anak SMP atau tsanawiyah sederajat.
Mahasiswa sudah harus membuat miliu belajar sendiri, mulai menulis karya-karya
ilmiah. Menuntut ilmu ala mahasiswa memang tidak terlepas dari membaca,
menulis, dan kemudian ditambah diskusi. Inilah cara belajar asli ala Islami,
yang sepatutnya kita lestarikan. Ilmuwan Islam zaman dahulu pun melakukan hal
yang sama. Mereka bahkan menggiatkan menulis, sehingga beberapa karya mereka
masih kita rasakan hingga saat ini.
Maka, kebiasaan baik
membaca, menulis dan berdiskusi sewajarnya kita lestarikan. Tanpa bermaksud
apa-apa dan menggurui bahwa hal tersebut memang kebutuhan kita bersama,
bagaikan sesuap nasi yang kita butuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar